logo

Guru SMP Malang Dilatih Bikin Siswa ‘Ketagihan’ Baca Bahasa Inggris

KEPANJEN — Bagaimana membuat siswa SMP yang awalnya menganggap membaca Bahasa Inggris sebagai sesuatu yang sulit justru menjadi gemar membaca? Jawabannya tidak selalu dengan memberikan lebih banyak soal. Para guru Bahasa Inggris SMP di Kabupaten Malang kini dibekali strategi extensive reading untuk membuat aktivitas membaca lebih ringan, menyenangkan, dan—kalau berhasil—bikin siswa “ketagihan” membaca.

Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Peningkatan Kompetensi Guru: Strategi Extensive Reading untuk Menumbuhkan Minat Baca Bahasa Inggris Siswa SMP yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBING) Universitas Islam Malang (UNISMA) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMP Kabupaten Malang.

Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di SMP Negeri 3 Kepanjen, Kabupaten Malang. Para guru Bahasa Inggris SMP Kabupaten Malang mengikuti kegiatan secara aktif melalui pemaparan materi, diskusi, berbagi pengalaman, serta eksplorasi strategi yang dapat diterapkan langsung dalam pembelajaran di kelas.

Workshop menghadirkan tiga akademisi MPBING UNISMA sebagai pemateri, yaitu Dr. Alfan Zuhairi, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Prof. Dr. Dwi Fita Heriyawati, M.Pd., dan Dr. Dzul Fikri, S.S., M.Pd.

Ketiganya memberikan perspektif akademik sekaligus pendekatan praktis mengenai bagaimana membangun kebiasaan membaca Bahasa Inggris di kalangan siswa SMP. Para guru tidak hanya diperkenalkan pada konsep extensive reading, tetapi juga diajak memikirkan kembali bagaimana aktivitas membaca selama ini diberikan kepada siswa.

Membaca Tidak Harus Menakutkan

Salah satu persoalan yang sering muncul dalam pembelajaran Bahasa Inggris adalah anggapan bahwa membaca teks berbahasa Inggris merupakan aktivitas yang sulit. Teks yang terlalu kompleks, tuntutan memahami setiap kosakata, serta aktivitas membaca yang selalu diikuti dengan pertanyaan dan tes dapat membuat siswa kehilangan minat.

Melalui strategi extensive reading, guru diajak mengubah paradigma tersebut.

Siswa diberikan kesempatan untuk membaca lebih banyak bahan bacaan yang relatif mudah, menarik, dan sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Mereka juga didorong untuk memilih bacaan berdasarkan minat sehingga aktivitas membaca tidak selalu terasa sebagai tugas sekolah.
“Siswa tidak harus langsung membaca teks yang sulit untuk menjadi pembaca Bahasa Inggris yang baik. Yang penting adalah mereka mendapatkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan dilakukan secara konsisten,” menjadi salah satu pesan penting dalam workshop tersebut.

Pendekatan ini menempatkan guru bukan sekadar sebagai pemberi tugas membaca, tetapi sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan bahan bacaan yang tepat sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kebiasaan membaca.

Guru sebagai Penggerak Budaya Literasi

Ketua Program Studi MPBING UNISMA, Dr. Alfan Zuhairi, M.Pd., menekankan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris sangat berkaitan dengan kompetensi dan kreativitas guru dalam merancang pengalaman belajar.

Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi di sekolah. Ketika guru mampu menghadirkan aktivitas membaca yang relevan, menarik, dan sesuai dengan karakteristik siswa, peluang tumbuhnya minat baca akan semakin besar.
Sementara itu, Prof. Dr. Dwi Fita Heriyawati, M.Pd., memberikan penguatan mengenai pentingnya mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik peserta didik dalam pembelajaran membaca. Siswa perlu mendapatkan akses terhadap bahan bacaan yang tidak hanya sesuai dengan kemampuan bahasa mereka, tetapi juga mampu membangkitkan rasa ingin tahu.

Adapun Dr. Dzul Fikri, S.S., M.Pd., turut membekali peserta dengan perspektif implementasi strategi membaca dalam pembelajaran. Guru didorong untuk mengembangkan aktivitas yang tidak monoton sehingga siswa memiliki pengalaman positif ketika berinteraksi dengan teks Bahasa Inggris.

Kolaborasi Kampus dan Guru

Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Malang, Angga Agus Kariyawan, S.Pd., Gr., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP memberikan manfaat besar bagi pengembangan profesionalisme guru.

Guru, lanjutnya, membutuhkan ruang untuk terus belajar, berdiskusi, dan mendapatkan wawasan baru yang dapat menjawab tantangan pembelajaran di sekolah. “Kolaborasi seperti ini sangat penting karena guru membutuhkan penyegaran, wawasan baru, dan strategi yang dapat langsung diterapkan di sekolah. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada workshop, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui praktik dan berbagi pengalaman antarguru,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung dalam suasana interaktif. Para guru tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi turut menyampaikan pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi dalam mengajarkan keterampilan membaca Bahasa Inggris.

Dari diskusi tersebut, terlihat bahwa persoalan minat baca siswa tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta siswa membaca lebih banyak. Dibutuhkan strategi yang tepat, bahan bacaan yang menarik, pendampingan guru, serta suasana belajar yang membuat siswa merasa nyaman.

Dari Workshop Menuju Gerakan Literasi

Bagi MPBING UNISMA, kegiatan ini bukan sekadar agenda pelatihan guru. Workshop tersebut merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap peningkatan mutu pendidikan di daerah.

Sinergi dengan MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Malang juga menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik pembelajaran di sekolah. Pengetahuan dan perkembangan keilmuan yang dimiliki perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa.

Melalui kegiatan tersebut, MPBING UNISMA dan MGMP SMP Kabupaten Malang berharap strategi extensive reading dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah. Sehingga manfaat kegiatan tidak berhenti ketika workshop selesai, tetapi berlanjut di ruang-ruang kelas dan memberikan dampak langsung kepada siswa.
Pada akhirnya, membangun minat baca Bahasa Inggris membutuhkan proses yang konsisten, bahan bacaan yang tepat, guru yang kreatif, dan lingkungan belajar yang mendukung.

Dari SMP Negeri 3 Kepanjen, gerakan itu kembali digaungkan: guru semakin kompeten, pembelajaran semakin kreatif, dan siswa semakin berani membuka buku Bahasa Inggris.

Sebab, target akhirnya bukan sekadar membuat siswa mampu menjawab soal bacaan. Lebih dari itu, mereka diharapkan menemukan bahwa membaca Bahasa Inggris bisa menyenangkan—bahkan sampai “ketagihan”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *